MENJADI SANTRI ENTEPRENEUR

Oleh: Muhammad Kholid

Tanggal: 2017-01-03 10:12:11

Melihat kaum muslimin yang kalah saing dengan non-muslim untuk bersaing dalam perekonomian, perlu kiranya kaum muslimin khususnya para santri untuk merefleksikan kembali akan pentingnya menjadi entepreneur, kali ini kru Koran Dalwa yaitu Muhammad Kholid, Hasan Basri, Afrinsya, mewawancarai al-Ustadz Habib Hamid Segaf selaku owner Alfareyhan Collection pada tangga 3 Januari di kediaman beliau.

-          Bagaiman dasar ajaran syari’at Islam dalam wirausaha ?

Islam itu adalah sebuah tata aturan universal yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk mengatur segala aspek kehidupan, tentunya semua tata kehidupan tidak terlepas dari Islam baik itu ekonomi umat. Ketika Rasullah Shallallahu’alaihi wasallam berhijrah ke Madinah, maka kaum Anshor berlomba-lomba untuk menghormati para Muhajirin, tapi para Muhajirin mengatakan kepada kaum Anshor bahwa mereka tidak perlu dengan itu, walaupun kaum Anshor sudah menawarkan rumah mereka, bahkan bersedia untuk menceraikan istri kedua mereka untuk kaum Muhajiirin. Akan tetapi, mereka hanya ingin ditunjukkan dimana letak pasar, mereka akan mulai berdagang.

            Di zaman Sayyiduna Umar bin Khattab, pasar ditata dengan baik, beliau mengatakan لايتجر أحد منا إلا وهو فقيه ( Tidaklah seseorang berdagang melainkan dia harus ahli fiqh ), artinya Islam tidak pernah melarang umatnya untuk berdagang, justru المؤمن القوي أحب عند الله من المؤمن الضعيف  ( seorang mukmin yang kuat lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah ).

-          Bagiamana dengan hadist Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam اللهم أحيني مسكينا و أمتني مسكينا و احشرني في زمرة المساكين ( Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai orang miskin, matikan aku sebagai orang miskin, dan bangkitkanlah aku sebagai orang miskin )         

Hadist ini dijadikan jargon, khususnya ketika zaman Belanda untuk melemahkan kaum muslimin ketika mereka ingin berdagang. Kata mereka jangan cinta dunia, orang berdagang itu cinta dunia, nanti lupa akherat dan lain sebagainya.

Padahal kalau kita lirik dari sisi sejarah, ataupun secara logika saja, minta dijadikan miskin, berarti Rasulullah orang kaya, tidak mungkin orang miskin minta miskin, denga arti Beliau tidak butuh kepada harta lagi. Tetapi Beliau berdo’a ( Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai orang miskin ), berarti jadikan hatiku seperti hatinya orang miskin yang selalu mengharap kepada Allah, yang berdo’anya lebih khusu’, karena raja’ nya orang miskin kepad Allah itu lebih tinggi daripada orang yang berkecukupan, kemudian ( matikan aku sebagai orang miskin) , berarti beliau tidak memiliki tanggungan lagi dengan harta benda, karena semua harta bendanya sudah diserahkan kepada anak-anaknya, istri-istrinya, dan ( bangkitkanlah aku sebagai orang miskin ), berarti tidak ada beban dalam segi finansial. Karena seseorang yang dibangkitkan tanpa beban finansial, dan anak-anaknya serta istri-istrinya berkecukupan, tidak ada yang kekurangan. Jikalau dia meninggal sedangkan istri-istrinya dhu’afa, anak-anaknya sengsara, karena dia memahami hadis ini dengan salah, sehingga dia tidak mau bekerja, maka ini persepsi yang salah. Inilah dasar ekonomi dalam Islam

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dikelilingi oleh tujjar, yang memiliki perekonomian yang kuat, seperti Sayyidina Abdurrahman bin ‘Auf, , bahkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib terkenal dengan keilmuwannya tapi juga dikenal dengan usahanya, apalagi Sayyidina Usman bin Affan dalam perang Mu’tah, beliau menyerahkan berbagai macam hartanya untuk dishadaqahkan kepada para pejuang.

Keterangan ini jelas, menghapus persepsi bahwa santri tidak boleh berdagang, jikalau santri berdagang berarti dia tidak mengamalkan ilmunya, atau persepsi jika santri berdagang, bukan santri sesungguhnya. Itu naif sekali, karena cari nafkah itu kewajiban, kalau kamu kawin, kamu harus memberi makan kepada istri kamu, karena itu tanggungjawab kamu sebagai seorang suami untuk mencari nafkah.

-          Bagaimana cara antum belajar berwirausaha, bukankah dipondok, kita tidak diajari berdagang ?

Pengalaman saya pribadi, memang dari kecil, saya hidup dilikungan berdagang, abah saya pedagang, lingkungan dekat pasar, semua tetangga saya membuka toko, dari umur SD saya sudah disuruh jaga toko, berjualan. Ketika saya lihat teman jualan balon, saya juga jualan balon. Sehingga sedikit banyak saya terpengaruh dengan kebiasaan-kebiasaan itu.

Kalau saya pribadi belajar dari pengalaman, kalau di pondok ini, saya yang pertama kali bikin bazar, alasan dibuat bazar untuk mengurangi santri yang sering izin keluar untuk membeli oleh-oleh, berangkat dari situ, oleh-olehnya dibawa kepondok, dijual dipondok. Seperti oleh-oleh Bangil, sarung, takwa dll. Waktu itu cuma disediakan satu meja besar, orang jual bakso dan nasi, dibawah dua tenda.

Selesai acara, terpikir dengan kebutuhan santri yaitu baju takwa, maka dari situlah ada keinginan untuk membuka usaha. Kebetulan tahun depannya saya lulus, dan mulai membuka usaha busana muslim, tahun 1996 mulai ngajar, juga mulai usaha, waktu itu modal saya dua ratus ribu, jadi baju sepuluh biji.

-          Terus bagaimana santri yang ingin mengembangkan skill entepreneurnya ?

            Adapun untuk santri yang ingin mengembangkan sistem entepreneurnya, banyak cara seperti baca buku entepreneur, hadir kajian atau pelatihan tentang entepreneur, lewat internet sudah banyak. Saya sendiri untuk mengembangkan diri buka internet juga, seperti di website klinik usaha yang dimiliki oleh seorang entepreneur muslim muda, pemilik Keke Busana, memulai bisnisnya dengan modal 50 juta, dan sekarang omsetnya puluhan miliar rupiah.

-          Apa urgensi menjadi entepreneur bagi seorang santri ?

 

Banyak mamfaat yang didapatkan, salah satunya bisa memberdayakan ekonomi, kita kan punya orang tua, istri, dan anak, yang mana tanggungan nafkahnya dipundak kita. Ketika sudah bisa mencukupi nafkah mereka, kita bisa mengajak orang lain untuk saling membantu dalam berdagang, saling membantu dalam modal, atau istilahnya syarikah, nanti hasilnya bisa dibagi bersama. Jadi mereka yang tidak mempunyai kemampuan, atau waktu, bisa terbantu. Dan juga teman-teman yang menjahit, bisa mengambil mamfaat juga.

Hasilnya juga, kalau sudah bisa mengeluarkan zakat, bisa bantu pondok, masyarakat bisa terbantu. Seperti hadist Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam المؤمن القوي خير من المؤمن الضعيف 

 

 

-          Bisakah antum menjelaskan beberapa tips-tips berwirausaha ?

 

Banyak orang-orang enteprenur tergoda dengan sesuatu yang biasa disebut dalam klinik usaha itu Ayam Dweler, ayam potong yang hanya untuk mencapai 1,5 kg saja, cuma butuh 3-4 bulan, apa yang terjadi dengan ayam dweler itu? jiwanya yang masih PAUD tapi tubuhnya sudah MAHASISWA, mau berdiri saja susah. Nah, bisnis yang terlalu cepat membesar, dia akan rentan, yaitu bisnis yang hanya mengandalkan pinjaman, belum apa-apa sudah berani pinjam ke bank,

Yang namanya dagang, kadang sepi dan kadang ramai. Saya dulu sering bikin memo dibuku, kalau laku saya catat sekian, kalau tidak dapat sama sekali saya catat Alhamdulillah, satu bulan kadang tulisan Alhamdulillah hampir separoh, karena nggak ada yang beli. Kalau ramai, dia bisa bayar hutangnya, tapi ketika sudah sepi, disitulah kemudian akan kelabakan.

Maka pakailah sistem Ayam Kampung, besarnya 1,5-2 tahun baru disembelih, walaupun lama tapi kuat, kalau Ayam Dweler kena hujan, kadang langsung mati. Jadi kalau mau jadi entepreneur, setelah lulus pondok dan kuliahnya, dan betul-betul matang dalam keilmuan, mulailah bisnis dengan yang mudah, dan tidak terlalu banyak resiko. Modal tidak terlalu besar, yang penting tidak diganggu dengan bunga-bunga bank dan lain sebagainya, dari satu sisi jelas haram, disisi lain itu berbahaya dalam perdagangan.

 

-          Dalam berdagang, apa saja yang perlu diperhatikan ?

 

Dalam berbisnis pasti punya hutang, tapi hutang itu tidak boleh yang mengikat. Hutang itu dibagi menjadi tiga, 1) Yang dihutangi orang, 2) yang berupa barang, 3) yang berupa uang kes.

Yang pertama, kita menghutangi orang lain, tidak boleh lebih dari 30 %, contohnya kalau punya uang 10 juta, dipinjemin 9 juta, sisa 1 juta, maka akan merugikan kamu ketika orang yang meminjam tidak mengembalikan hutangnya.

Yang kedua, hutang dari barang yang ada, kalau barang itu kurang dari 30 % maka produksilah barang itu, tapi kalau sudah lebih dari 30 % berhenti dari produksi, jangan numpuk-numpuk barang, karena dikhawatirkan, kalau tidak laku bisa kadaluwarsa ( kalau makanan ) atau sudah tidak ngetren lagi ( kalau baju ).

Yang ketiga, hutang yang berupa uang kes, kalau ada orang ingin berhutang jangan lebih dari 30 %, karena melebihi kemampuan kamu. Contohnya kalau kamu punya uang 400 ribu, jangan dipinjem semuanya, pinjemkan 100 ribu misalnya, karena ketika uang kamu tidak dikembalikan, kamu masih punya uang.

Kemudian, saya pernah ikut pelatihan entepreneur di Surabaya, pelatihnya memberi nasehat seperti ini, “ Lebih baik sungai yang kecil, tapi ada naganya, daripada sungai yang besar, tidak ada naganya “. Sungai disini adalah usaha, lebih baik usaha kamu kecil tapi punya daya tarik untuk membuat orang terus membelinya, kamu mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, artinya punya daya tawar yang lebih. Daripada punya dagangan yang banyak, tapi orang tidak mau beli, karena sudah banyak dan tidak ada daya lebihnya.

Makanya orang-orang seperti pengusaha kuliner, memberi nama restaurannya dengan nama-nama yang aneh-aneh, seperti Nasi Bebek Judes, itu hanya upaya untuk menjadi daya tarik makanan itu, ingin membuktikan kalau bebek ini beda loh, atau Nasi Bebek Marah, padahal maksudnya pedas. Jadi prodak-prodak andalan itu harus ada.

Tips yang lain, bisnis itu jangan aneh-aneh lah. Kamu punya kemampuan apa, potensi apa yang kamu miliki, dan konsumen membutuhkan apa, itu tinggal disinkronkan, dan temukan titik ketemunya. Contohnya kamu punya ladang sawah, kamu amati di kampungmu tidak ada yang jual rujak, maka jual rujak, disitulah titik temunya. Contoh yang lain, saya punya channel, dilingkungan saya banyak kain-kain yang bagus, dan dipondok santri membutuhkan takwa, gamis dll. Disitulah kecocokan antara potensi kita dengan kebutuhan masyarakat.

Jangan sampai tidak ketemu, misalkan kamu tinggal di kota, tapi kamu jual pacul, atau celurit, padahal orang kota itu tidak membutuhkan, hanya sedikit yang perlu dengan itu. Tapi berbeda dengan yang didesa, banyak yang membutuhkan.  

 

-          Apa pesan antum untuk para santri ?

 

Tetap fokus belajar, jangan pikir berdagang dulu. Saya sendiri terus terang saja, dalam satu sisi ada unsur keterpaksaan, saya anak pertama, orang tua laki-laki saya sudah meninggal, saya punya tanggungjawab terhadap adik-adik saya, walaupun saya belum menikah ketika itu. Maka saya mulai berwirausaha, sehingga apa yang saya cita-citakan tidak tercapai, seperti cita-cita ingin keluar negeri, saya punya cita cita belajar keluar negeri, tapi karena tidak memungkinkan, ini yang bisa saya lakukan.

Tapi untuk orang tuanya yang masih mampu, masih sehat, cari ilmu dulu setinggi-tingginya, nanti begitu sudah selesai, baru belajar entepreneur. Dan saya kira entepreneur itu tidak sulit, yang penting istiqamah, sabar, nggak bosanan, insya Allah bisa.