Bisakah Kita Kembali Kezaman Kejayaan Islam

Oleh: Muhammad Kholid

Tanggal: 2017-08-02 23:39:58

Umat Islam sedang dalam kemorosotan dalam berbagai bidang, menjadi objek bukan sebagai subjek, menjadi minoritas bukan sebagai mayoritas, sehingga umat Islam diperlakukan secara diskriminatif. Umat Islam di Palestina ditindas oleh Israel, umat Islam di Rohingya, Uighur, Chechnya, ditindas oleh penguasa yang dzalim. Mayoritas umat Islam di Afrika hidup dalam kemiskinan. Umat Islam di Eropa tidak mendapatkan hak-haknya menjalankan syari’at Islam, mahasiswi tidak boleh memakai kerudung, dilarang mengumadangkan adzan dan lain sebagainya.

Dimana dasar dari kesalahan umat Islam? Jawabannya tidak lain karena kita jauh dari agama, jauh dari Allah, cinta dunia dan takut mati. Inilah hal mendasar yang masih menjadi penyakit mayoritas umat Islam sekarang. Karena kita tidak menolong agama Allah, sehingga Allah tidak menolong kita, bukankan didalam Al-Qur’an disebutkan ان تنصر الله ينصركم ( Jika Kamu menolong(agama) Allah, maka Allah akan menolongmu), وان عدتم عدنا( Jika kamu kembali(ke agama Allah), maka Kami akan kembali).

Teringat ketika Panglima Islam Shalahuddin Al-Ayyubi berkeingin untuk membebebaskan Baitul Maqdis di Palestina yang dikuasai Pasukan Salibis Kristen. Cara pertama yang dilakukan adalah dengan mendirikan madrasah-madrasah, sebagai wadah pengajaran pelajaran-pelajaran agama untuk para pemuda, calon tentara-tentara yang akan membebaskan Baitul Maqdis.

Ketika para pemuda itu sudah siap dengan bekal ilmu agama dan mental berjuang menegakkan kalimat Allah, diberangkatkanlah para prajurit-prajurit itu dengan dipimpin oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Setiap malam, Shalahuddin Al-Ayyubi mengecek keadaan pasukannya, dan yang sangat luarbiasa adalah prajurit-prajurit itu sudah bangun dua jam sebelum shubuh untuk shalat malam setiap malamnya.

Suatu hari, Shalahuddin Al-Ayyubi keliling mengecek keadaan prajurit-prajuritnya, dan melihat semua pasukannya sudah bangun melaksanakan shalat malam dan membaca Al-Qur’an, tapi ada dua orang prajurit yang masih tidur terlelap, Shalahuddin menghampiri keduanya untuk membangunkannya serta berkata dengan nada marah, ‘ Allah telah mengakhirkan pembebasan Baitul Maqdis disebabkan kalian!!!’, begitulah kondisi tentara yang berhasil membebaskan Baitul Maqdis.

Kalau sekarang kita melihat Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsa masih dibawah kekuasaan Israel, umat Islam tidak boleh lagi melaksanakan shalat disana, bisakah kita membebaskannya? Apakah kita bisa membebaskannya kalau shalat shubuh saja kita masih perlu dibangunkan? Kalau kita jauh dari agama? Kalau kita masih sering ghibah dan namimah sesama umat Islam?

Kejayaan Islam bisa kita kembalikan dengan memperbaiki individu-individu dari umat Islam, setelah individu-individunya sudah paham akan syari’at Islam, langkah selanjutnya dengan memperbaiki keluaga-keluarga umat Islam. Ketika keluar-keluarga umat Islam sudah baik, akan muncul sebuah masyarakat yang islami yang menerapkan syari’at islam dalam kehidupan kesehariannya.

Begitulah cara yang harus ditempuh jika kita ingin menegakkan daulah islamiyah, bukan seperti yang dilakukan oleh beberapa kelompok umat islam, yang ingin langsung mendirikah daulah islamiyah, tanpa memperhatikan dan melakukan upaya untuk membentuk individu, keluarga, dan masyarakat yang Islami. Mengutip kalam dari Dr. Sai’d Ramadhan Al-Bouti bahwa kewajiban kita bukan mendirikan khilafah, tapi mendirikan masyarakat yang Islami.

Dimulai dari pendidikan, menempatkan pelajaran sesuai  dengan porsi dan urutannya, ajarilah anak-anak kita ilmu agama hingga mereka benar-benar paham, karena hukum belajar ilmu agama adalah fardhu ‘ain, setelah dikira cukup dengan ilmu agama mereka, maka tahap selanjutnya kita ajarai ilmu-ilmu yang bersifat fardhu kifayah, seperti ilmu-ilmu umum dan keterampilan.

Begitulah urutan yang seharusnya diajarakan dan dijadikan metode pembelajaran di sekolah-sekolah, bukan seperti sekarang ini yang hanya memberi ruang dua jam perminggu untuk pelajaran agama, maka tidak perlu heran, ketika kita menemukan pemuda yang belum bisa membaca al-Qur’an, wudhu dan shalatnya belum benar, tidak tahu mana yang halal dan mana yang haram.